Dua kubu kandidat Pilpres 2019 saling rebut klaim dukungan Ulama

Dua kubu kandidat Pilpres 2019 saling rebut klaim dukungan Ulama
Bagikan Artikel ini :
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Baru saja didapuk sebagai calon wakil presiden mendampingi Joko Widodo, Kiai Haji Ma’ruf Amin, Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) langsung memasang kuda-kuda menyentil lawan politik dalam pemilihan presiden 2019.

Sebagai ulama yang pegang posisi Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), sebuah badan semi-pemerintah bentukan Orde Baru itu, ia menyindir koalisi partai pendukung pasangan Prabowo Subianto dan Sandiaga Salahuddin Uno yang justru abai mendengarkan rekomendasi sebuah kelompok politik bernama Gerakan Nasional Pengawal Fatwa.

“Ada pula sono ngomongnya menghargai ulama, tapi usul Ijtima Ulama enggak didengerin gitu, loh,” sindir Ma’ruf di kantor Dewan Pimpinan Pusat Partai Persatuan Pembangunan, Jumat pekan lalu, setelah pendaftaran calon presiden dan wakil presiden ke Komisi Pemilihan Umum.

Sindiran Ma’ruf, meski tidak secara terang-terangan menyebut nama, menggambarkan bagaimana koalisi kubu Prabowo justru menggandeng Sandiaga, notabene bukan hasil pandangan politik Ijtima Ulama GNPF.

Padahal, rekomendasi Ijtima Ulama 212 itu menyodorkan Salim Segaf Al-Jufri, Ketua Majelis Syuro Partai Keadilan Sejahtera, atau Abdul Somad Batubara, ustaz terkenal dari Riau, sebagai calon wakil presiden. Belakangan, setelah Prabowo tak kunjung menentukan pendampingnya, Ulama GNPF menyodorkan Ustaz Arifin Ilham menjelang deklarasi.

Tapi Prabowo tak menggubris, tetap memilih Sandiaga Uno, Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra dan Wakil Gubernur DKI Jakarta.

Karena pilihan Prabowo itulah kelompok GNPF belum menentukan dukungan dan berencana bakal menggelar Ijtima Ulama Jilid II menyikapi dinamika politik Pilpres 2019.

“Tetap istiqomah dalam satu komando ulama,” ujar Rizieq Shihab, Ketua Dewan Pembina GNPF Ulama melalui keterangan tertulis yang diterima Tirto.

Narasi didukung ulama memang menguat mendekati pembukaan pendaftaran capres dan cawapres sejak 4 Agustus. Bermula dari pandangan politik GNPF Ulama pada akhir Juli 2018, isu dukungan “ulama” bergulir untuk dipakai sebagai kandidat wakil presiden.

Prabowo, yang berkoalisi dengan PKS dan Partai Amanat Nasional, disebut-sebut mendapat dukungan dari GNPF, kekuatan mobilisasi politik yang muncul sejak Pilkada DKI Jakarta. Itjima Ulama menjadi peluru PKS untuk menyorongkan kadernya kepada Prabowo.

“Kami tentu saja menjadikan Ijtima Ulama sebagai aspirasi apa yang sudah kami bangun selama ini dengan Pak Prabowo,” ujar Sekretaris Jendral PKS Mustafa Kamal usai bertemu dengan elite Partai Demokrat, 2 Agustus.

Hingga mendekati deklarasi, PKS masih tetap ngotot dengan “berpegang pada hasil Ijtima Ulama, yang artinya masih dikomunikasikan (ke partai koalisi),” ujar Direktur Pencapresan PKS Suhud Aliyuddin kepada Tirto, Kamis pekan lalu.

Namun, keputusan Prabowo akhirnya memilih Sandiaga. Pilihan inilah yang disebut Ma’ruf Amin, “Malah wakilnya bukan ulama.”

loading…


banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Comments are closed.