Meriahnya Suasana Imlek di Kundur

Meriahnya Suasana Imlek di Kundur

Liputankepri.com,Kundur – Hari imlek yang kerap diartikan sebagai hari raya ummat Buddha oleh kebanyakan orang,terlihat cukup megah dan meriah dikecamatan.

Kemeriahan tersebut terlihat dari perubahan Vihara Dharma Shanti sebagai salah satu tempat ibadah yang berlokasi dipusat kota Kecamatan Kundur.

Hiasan lampu divihara tersebut dalam beberapa hari belakangan ini telah merubah suasana kota Kundur.
Hasil pantauan media ini dilapangan banyak pihak yang berpendapat,kemeriahan imlek pada tahun ini memang terkesan cukup meriah.

Padahal jika kita melihat dari perekonomia dikundur dan juga Karimun tahun ini bisa dibilang cukup melemah dan hampir beradaa pada titik nadir.

Namun hal tersebut tidak menjadi penghalang bagi ummat Buddha khususnya Tao maupun Khonghucu untuk berbuat kebaikan,baik dalam menghias tempat ibadah seperti Vhihara Dharma Shanti dan juga tempat ibadah lainnya dipulau Kundur.

Jika kita hayati imlek ditahun masehi sudah dijalani selama 2019 tahun,namun secara hitungan tahun cina imlek sudah berusia 2570 tahun.
Secara logika imlek sudah berusia lebih tua dari tahun masehi yang hanya baru berusia 2019 tahun, bahkan dengan tahun hijriah yang sudah berjalan selama 1439 tahun dan akan berusia 1440 ditahun ini.
Menurut para tokoh dan sesepuh orang Tionghoa tanjug batu berpendapat.

Secara etimologi istilah imlek berasal dari 2 kata yakni,Im berarti Bulan dan lek yang artinya Penanggalan.
Kata-kata tersebut diambil dari bahasa Mandarin Yin-Lin atau dialek Hokkian.

kombinasi kedua kata tadi memberikan arti penanggalan Bulan, yang dalam Bahasa Inggris disebut Lunar New Year atau Chinese New Year.

Dengan demikian tahun baru Imlek artinya tahun baru yang dihitung berdasarkan peredaran bulan mengelilingi bumi.

Semoga kesalahpahaman mengenai anggapan bahwa Imlek adalah perayaan agama Buddha oleh sebagian besar orang, khususnya di tanjung batu dapat kiranya didasari oleh kurangnya informasi yang benar dan melekatnya stigma dan sikap penyamarataan bahwa warga keturunan etnis Tionghoa pastilah beragama Buddha, Tao atau Kong Hu Chu, dan agama Buddha adalah agama khusus warga keturunan etnis Tionghoa.

Berita Terkait :  Bupati Karimun Minta Semua Kades Aktif Berkomunikasi Dengan Kepala Daerah

Semoga Vihara Dharma Shanti tetap menjadi tempat wisata hati.(Majid).

Bagikan Artikel ini :
  • 8
    Shares

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Comments are closed.