Kadiskes Diduga Sibuk Dengan Bisnis Rapid Antigen, Keluarga Diminta Antar Sendiri Pasien Covid-19 Ke BLK

  • Bagikan

Liputankepri.com,Meranti- Berbagai upaya pemerintah untuk mengatasi dan meningkatkan pelayanan penyebaran covid-19 terutama dalam menjelang Idul Fitri lonjakan kasus Covid-19 dikepulauan meranti semakin meningkat, hal ini tentunya menjadi persoalan penting bagi tim gugus tugas pencegahan penyebaran Covid-19 Dikepulauan Meranti serta dibutuhkan kerjasama yang baik bersama masyarakat.

Tak hanya itu, dengan bertambah banyaknya masyarakat yang terkonfirmasi positif virus mematikan itu, namun disayangkan hal itu seperti berbanding terbalik dengan proses penanganan yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kepulauan Meranti yang terkesan lebih sibuk dengan praktek bisnis pemeriksaan Rapid Antigen ketimbang dibandingkan dengan meningkatkan pelayanan penanganan Pasien Covid-19 yang diduga terkesan mengabaikan Standar Operasional Prosedur (SOP) dan sepele atau main-main,Juma’at 07/05/2021.

Tak sedikit masyarakat ataupun keluarga dari pasien Covid-19 meragukan proses yang dilakukan oleh Dinkes dalam menangani pandemi ini tidak sesuai dengan aturan bahkan bisa dibilang tidak
Standar Operasional Prosedur (SOP) yang berlaku, contohnya molornya informasi terkait hasil pemeriksaan Swab PCR sehingga pasien merasa tidak yakin atau merasa sengaja dipositifkan sebagai orang yang terjangkit virus China tersebut.

Berita Terkait :  Gadis 15 Tahun Tidak Pulang, Orang Tua Lapor Polisi

Dari hasil investigasi media ini media berserta beberapa awak media lainya ditemukan beberapa fakta menarik mulai dari tracing yang tidak tuntas hingga ke proses isolasi yang tidak sesuai prosedur penanganan pasien Covid-19.

Menurut salah satu keluarga pasien berinisial PN Warga Desa Alahair Timur yang tak mau disebut namanya menuturkan, Hal ini bermula dari keterlambatan hasil swab pcr yang saya terima, Saya merasa seperti dipermaikan dikarenakan hasil swab pcr yang saya dan keluarga tersebut informasinya tidak serentak, padahal kami satu keluarga yang terdiri dari bapak, suami dan saya disaat itu serentak melakukan pemeriksaan.

“Kita di periksa melalui Swab PCR setelah sebelumnya pemeriksaan swab antigen dinyatakan negatif sekitar tanggal 4/5/21 kemaren, kami sekeluarga terdiri dari saya (istri), suami dan juga orang tua yaitu ayah, kita merupakan hasil dari tracing dari ibu yang sudah dinyatakan positif sekitar tanggal 27/3/21,” Kata sumber kepada media ini.

Berita Terkait :  Bupati Karimun Ikuti Pawai Anti KDRT

Sambungnya lagi,”Yang menjadi pertanyaan saya ternyata hasil pemeriksaan terhadap Ayah saya yang keluar terlebih dahulu dan dinyatakan positif, sementara hasil pemeriksaan saya dan suami belum diketahui, padahal kita melakukan pemeriksaan serentah dihari yang sama, dan waktu itu saya tanya ke petugas puskesmas alah air mereka menginfokan bahwa dipekanbaru tepatnya di RSUD Arifin Ahmad banyak hasil swab yang mengantri dari seluruh kota di Riau, tapi saya heran tak lama berselang saya di telfon lagi oleh mereka dan mengatakan hasil pemeriksaan saya dan suami negatif. Menurut saya aneh karena saya dan keluarga melakukan tes swab pcr tersebut bersama-sama, tentunya hasil yang keluar juga serentak,”tuturnya.

Sementara itu fakta mengejutkan kembali didapat oleh media ini dimana pasien yang sudah dinyatakan positif terpapar Covid-19 diminta oleh pihak puskesmas untuk mengantar sendiri pasien ke fasilitas karantina dengan alasan mobil ambulance mogok dan tidak bisa digunakan.

Berita Terkait :  Warga Kaget Beli Air Ada Jentik-Jentik Dalam Kemasan Mineral Di Meranti

Hal ini tentunya tidak sesuai prosedur, yang mana seharusnya Dinkes melalui puskesmas terdekat menjemput pasien tersebut dengan menggunakan Alat pelindung diri (APD) serta ambulan. Itu tentu sangat berbahaya bagi kekluarga pasien ditambah pasien bisa saja melakukan kontak dengan masyarakat selama perjalanan untuk dilakukan isolasi dan tidak.

Fakta lain juga terkuak setelah media ini melakukan investigasi ke fasilitas karantina di Balai Latihan Kerja ( BLK), Banyak pasien bukan OTG ( orang tampa Gejala ) yang seharusnya dilakukan isolasi selama 14 hari diketahui sudah bisa keluar dihari ke 6 dan 8 tanpa di swab ulang.

Atas persoalan tersebut berkali-kali awak media ini menghubungi pihak puskesmas alah air sampai saat ini belum bersedia untuk mengangkat telfon begitu juga dengan Kadiskes Meranti dr Misri Hasanto sampai saat ini belum bisa diminta keterangan, itu disebabkan nomor Wa dan telfon masih diblokir.(tm)

Bagikan Artikel ini :
  • Bagikan